Artikel dan Berita

Andropause

Andropause – Gejala, penyebab dan Cara Pengobatannya

Category: Artikel, Info Sehat, PKRS Comments: 0

Andropause atau sering disebut monopausenya pria ini dapat terjadi pada pria khususnya bagi mereka yang telah berusia di 40 atau 50 tahun, tergantung dari riwayat kesehatan serta gaya hidup. Andropause adalah salah satu kondisi kesehatan yang ditandai dengan penurunan hormon sexual karena turunnya kadar hormon testosteron pada pria.

Apa itu hormon testosteron? Testosteron sendiri merupakan hormon seks utama pria yang berperan dalam perkembangan dan fungsi sistem reproduksi.  Hormon testosteron merupakan salah satu hormon penting pada pria yang membantu kinerja sistem reproduksi. Hormon ini juga berfungsi dalam pembentukan kepadatan tulang, dan kekuatan otot.

Seiring bertambahnya usia maka produksi hormon testosteron juga akan semakin menurun. Kondisi inilah yang kemudian menjadi penyebab terjadinya andropause pada pria dewasa secara alami. Kadar testosteron pada tubuh pria dapat menurun sebanyak 1% setiap tahunnya. Kondisi inipun bisa lebih diperparah akibat penyakit kronis yang diderita, seperti obesitas, diabetes, pengaruh stres, ataupun pengaruh obat-obatan.

Andropause juga dapat menyebabkan perubahan yang beragam pada pria, seperti penurunan gairah seksual, perubahan mood yang tak menentu, peningkatan lemak tubuh, dan lain-lain

Gejala Andropause

Tidak semua pria mengalami gejala yang sama maupun periodenya, namun terdapat beberapa gejala yang dikenali secara umum yaitu:

  • Penurunan gairah seksual (kesulitan dalam mencapai atau mempertahankan ereksi (disfungsi ereksi), serta penurunan volume ejakulasi).
  • Jumlah lemak tubuh meningkat dan massa otot berkurang sehingga menyebabkan sejumlah perubahan fisik (misalnya, perut buncit).
  • Sering mengalami perubahan mood yang tidak menentu, seperti merasa gelisah, mudah sedih, dan tersinggung.
  • Meningkatnya risiko infertilitas.
  • Penurunan fungsi kognitif (sulit berkonsentrasi hingga menurunnya kemampuan berpikir dan daya ingat).
  • Insomnia atau sulit tidur.
  • Menurunnya libido.
  • Rambut yang menipis.
  • Menurunnya rasa percaya diri dan tingkat energi.

Beberapa gejala lain yang dimiliki oleh penderita andropause adalah tulang mulai rapuh. Kondisi ini dapat disebabkan oleh rendahnya densitas tulang atau yang kerap mengindikasikan osteoporosis.

Penyebab Andropause

Berkurangnya hormon testosteron pada pria merupakan penyebab utama dari andropause. Kondisi ini juga kerap dikenal dengan sebutan hipogonadisme.

Beberapa faktor lain yang juga berisiko memicu terjadinya andropause adalah:

  • Faktor Usia (Penuaan)
    Semakin bertambahnya usia, maka kelenjar pituitari di otak akan lebih sedikit mengirimkan sinyal untuk merangsang produksi hormon luteinizing (LH) yang diperlukan untuk merangsang testis untuk menghasilkan hormon testosteron.
  • Gaya hidup yang tidak sehat
    Seperti kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, jarang berolahraga, dan pola makan yang tidak sehat.
  • Memiliki riwayat penyakit metabolik
    Seperti penyakit diabetes, obesitas, dan hipertensi.
  • Mengalami Stress atau depresi.
  • Mengidap hipotiroidisme.
  • Konsumsi Obat-obatan tertentu
    Seperti steroid, cimetidine, spironolactone, digoxin, antidepresan.

Diagnosis Andropause

Dalam upaya memperoleh informasi yang akurat terkait kondisi penderita, dokter akan melakukan diagnosis melalui beberapa langkah berikut:

  • Melakukan wawancara medis (anamnesis) dengan pasien untuk mengetahui gejala yang dialami serta riwayat kesehatan penderita andropause.
  • Melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
  • Merekomendasikan tes darah guna mengukur kadar serum total testosteron dan sex hormone binding globulin (SHBG) dalam tubuh.
  • Menjalani USG testis untuk memeriksa kondisi testis.
  • Menjalani pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar serum LH dan FSH.
  • Menjalani pemeriksaan endokrin lainnya (estradiol, GH, dan DHEA).

Cara Mengatasi Andropause Dini

Meskipun andropause dini terjadi secara alami, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi terjadinya gejala-gejala dari andropause dini ini. Adapun cara mengatasi gejala andropause adalah:

1. Rutin Olahraga

Kebiasaan olahraga yang diimbangi dengan konsumsi makanan yang mengandung zink dan vitamin D dapat membantu meningkatkan produksi hormon testosteron pada pria.

2. Hentikan Merokok

Rokok mengandung zat-zat kimia seperti nikotin dan senyawa kimia lainnya yang dapat mengganggu produksi dan sekresi hormon dalam tubuh. Salah satu kelenjar penghasil hormon yang terganggu akibat rokok adalah kelenjar adrenal yang turut berperan dalam memproduksi hormon testosteron.

3. Tingkatkan Kualitas Tidur

Meningkatkan kualitas tidur juga berperan penting dalam mengatur metabolisme tubuh. Kurangnya waktu tidur dapat memengaruhi metabolisme lemak dalam tubuh, yang pada akhirnya dapat memengaruhi produksi hormon testosteron.

4. Menjaga Berat Badan Ideal

Gangguan produksi hormon testosteron bisa ditimbulkan karena berat badan berlebih atau obesitas. Setiap pria disarankan untuk menjaga berat badan ideal guna menurunkan risiko terjadinya andropause dini.

Andropause adalah kondisi yang dapat dialami oleh setiap pria dewasa, terutama mereka yang sudah berusia lanjut. Penurunan kadar hormon testosteron memang dinilai umum terjadi seiring bertambahnya usia seseorang. Namun, apabila gejala andropause sudah terlalu mengganggu, maka penderita disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan ke dokter Spesialis Andrologi RSI Unisma Malang agar dapat menerima diagnosis serta pengobatan yang tepat.

Jangan tunda berobat #AyokeRSIUNISMAaja

Dokter Spesialis Andrologi Malang

5/5 - (3 votes)

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *